Rabu, 21 Juli 2010

Oh... Bahan Bakar Subsidi...

Aheh dan Heran...

Beberapa hari ini digegerkan oleh maraknya penggantian Fuel Pump (FP) atau awamnya menyebut pompa bahan bakar kendaraan...

Kira-kira seperti inilah bentuk fuel pump, ini bentuk fuel pump yang sudah terintegrasi dengan pelampung tangki bahan bakar dan filter bahan bakar...
(gambar diperoleh dari http://www.wjjeeps.com/)

Dari sekian info yang saya pantau di internet, dapat disimpulkan masalah Fuel Pump rusak ini :
  • Terjadi di berbagai merk mobil,
  • Terjadi di berbagai type mobil,
  • Terjadi di berbagai tahun produksi mobil,
  • Terjadi bersamaan di sekitar bulan juli 2010,
  • Terjadi di berbagai kendaraan yang pakai bahan bakar jenis tersebut,
  • Terjadi di berbagai SPBU tempat kendaraan yang mengisi bahan bakar jenis tersebut.
Kaget memang...
Kenapa terjadi di kendaraan-kendaraan yang mengkonsumsi bahan bakar subsidi?
Dan waktu kejadiannya serentak pula (bulan Juli 2010)?

Ada Apa ini?

Saya kebetulan ikut beberapa milis otomotif indonesia,
hampir rata-rata semuanya mengeluhkan kejadian yang sama. Yaitu jika kendaraan tersebut menggunakan bahan bakar bersubsidi pemerintah RI, yah... pada belanja Fuel Pump deh...

Saya coba berdiskusi di beberapa milis,
Yah seperti biasa, ada yang pro dan ada juga yang kontra dengan pendapat saya...

Saya kok cenderung curiga dari kualitas dan kandungan bahan bakar subsidi tersebut yah.
Tapi ada sahabat-sahabat saya di milis yang coba memberikan balasan yang berkata lain (bukan dari bahan bakarnya), misalnya bisa saja kerusakan terjadi karena cacat pabrik, kualitas pompa bahan bakar, umur pompa bahan bakar, dsb..

Seperti biasa,
Saya reply lagi untuk meyakinkan jawabannya..
Ehhh... malah banyakan nge reply lebih keras dan paling nyebelin sih kalo udah keluar kata sakti "Case Closed"... Aduhhh... Cape deh...

Yah daripada berantem, saya milih ikutin aja... 
Karena tujuan saya bergabung di berbagai milis juga semata-mata untuk mencari sahabat dan memperoleh ilmu-ilmu bermanfaat... BUKAN mencari musuh... :)

Makin bikin kaget itu ketika saya baca di kompas.com


JAKARTA, KOMPAS.com — Kasus pompa bahan bakar atau fuel pump mampet menimpa armada taksi Blue Bird. Gangguan ini terjadi pada sekitar 1.200 mobil dari 17 pul yang tersebar di Jabodetabek. Kabar tersebut disampaikan Humas PT Blue Bird, Teguh Wijayanto, kepada Kompas.com, Rabu (21/7/2010).

"Kendaraan mulai bermasalah dengan pompa bahan bakar pada awal Juni dan sampai sekarang masih berlangsung," ungkap Teguh. Ke-1.200 unit itu, menurut Teguh, adalah kendaraan yang berada di luar alias beroperasi. Jumlah itu belum termasuk mobil yang dikandangkan karena tidak bisa distarter. "Setiap harinya, yang terkena 30 sampai 40 unit," aku Teguh.

Pihak Blue Bird belum bisa menyimpulkan penyebab dari gangguan pada pompa bahan bakar ini. "Hanya, dari hasil pemeriksaan, terjadi penggumpalan," ungkapnya.

Pengisian bahan bakar taksi-taksi ini dilaksanakan di beberapa SPBU yang menjalin kerja sama dengan Blue Bird. Teguh mengungkapkan, pihaknya belum melayangkan komplain ke Pertamina sehubungan dengan kualitas bahan bakar. "Kami baru komplain ke ATPM karena kendaraan masih dalam masa garansi," sebut Teguh.

Akibat kejadian ini, dua dampak muncul. Pertama, dari segi pengemudi, pendapatan harian mereka terganggu alias bisa tidak memenuhi target. Kedua, dari sisi pelanggan, perjalanan jadi terganggu, "Ini jelas berpengaruh pada image nama Blue Bird," kata Teguh.
Penulis: SBT
Editor: bastian 
Nah?
Siapa yang bermasalah?
Makin menjurus lagi kan tersangkanya ke bahan bakar subsidi...
Kalau armada taxi pakai bahan bakar non-subsidi, wah bisa berapa tuh tarifnya?

Paling saya soroti itu kenapa hal ini terjadi disaat Pemerintah dan BUMN yang bergerak di bidang minyak dan gas sedang kampanye menggunakan bahan bakar non-subsidi.
http://foto.detik.com/ 

Kesannya konsumen "DIPAKSA" untuk pindah menggunakan bahan bakar non-subsidi.
Entah benar atau tidak, jika hal ini ternyata benar, saya bisa bilang bahwa "cara bermainnya tidak cantik".

Tanggapan pertamina pun menurut saya agak aneh,


Selasa, 20/07/2010 08:12 WIB
Pertamina Ngaku Premium yang Dijualnya Sesuai Kualifikasi

Nurseffi Dwi Wahyuni - detikFinance



Jakarta - PT Pertamina (Persero) memastikan spesifikasi premium yang dijual di Stasiun Pengisian Bahan  Bakar Umum (SPBU) sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah.

Vice President Communication Pertamina, Basuki Trikora Putra mengaku, BUMN Migas tersebut selalu mengontrol kualitas seluruh produk bahan bakar minyak (BBM) yang dijualnya.

Pengawasan terhadap kualitas produknya ini dilakukan mulai dari BBM itu masih berada di di  kilang pengolahan BBM milik Pertamina hingga sudah tiba di instalasi depot Pertamina.

"Di SPBU kami juga melakukan cek visualisasi. Jadi BBM yang dijual termasuk premium sesuai dengan  spesifikasi Dirjen Migas dan telah melalui proses quality control sesuai prosedur yang ada," katanya  saat dihubungi detikFinance, Selasa (20/7/2010).

Ia menduga jika ada kerusakan pada fuel pump mobil bisa jadi disebabkan karena pengguna mobil menggunakan bahan bakar yang tidak sesuai dengan spesifikasi mesin mobil tersebut.
"Ketidaksesuaian antara mesin mobil dengan jenis BBM yang digunakan itu mungkin saja merusak mesin. Mobil produksi di atas tahun 2005 itu kan harusnya pakai Ron 92 (Pertamax), kalau pakai Ron 88 (Premium) akan ada persoalan dalam kinerja mesin," ungkapnya.

Sebelumnya, sejumlah mobil ditemukan mengalami kerusakan pompa bensin. Namun itu hanya terjadi pada mobil yang menggunakan bahan bakar premium saja. Untuk Pertamax dan BBM lain masih aman dan terhindar dari kerusakan pompa bensin.

Setelah baca artikel di atas...
Mmmmmmhhhh....
Saya cuma bisa bilang, agak ngaco tuh tanggapannya...
entah wartawannya yang salah ketik atau narasumbernya yang salah omong... tapi itu sih gak masuk logika...

Kalau memang bahan bakarnya gak cocok dengan kendaraan tersebut, kenapa serentak terjadi di waktu yang bersamaan. Lihat juga deh kesimpulan saya di atas...

Jawabannya (di artikel Pertamina Ngaku Premium yang Dijualnya Sesuai Kualifikasi) jadi gak masuk akal kan?

Kalau melihat jalur bahan bakar mesin,

Apa hubungannya klarifikasi bahan bakar dengan teknologi mesin?
Yang dikeluhkan masyarakat kan "merusak Fuel Pump." BUKANnya merusak mesin.
Lagian kenapa setelah bertahun2 pake nih bahan bakar subsidi kok masalahnya baru timbul sekarang? Bersamaan pula?
*aduh, jawabannya kurang berbobot jadinya. Mestinya dijawab biar masalah itu jelas, eh malah makin bikin curiga.

Bahan bakar dari tangki disedot oleh pompa bensin untuk dialirkan ke pengabut bahan bakar (injeksi atau karburator).

Nah kalau pompa bahan bakar rusak, bahan bakar pun tidak bisa dikirimkan ke mesin, yah mesin terasa seperti kehabisan bahan bakar.

Untuk mesin yang belum injeksi (masih karburator) sih tidak begitu masalah yah, bisa dibikin supply bahan bakar darurat...

Caranya bisa dicontoh dari rekan-rekan suzuki Karimun (dari milis suzuki_karimun@yahoogroups.com) yang kreatif...

Pada gambar ini, bahan bakar tetap disedot dari penampung daruratnya (jerigen) dengan pompa bensin, namun experimen ini ternyata gagal juga karena pompa bahan bakar katanya ngadat (rusak) lagi.

Lalu dilanjut dengan experimen berikutnya, 
bahan bakar ditaruh di wadah dan wadahnya diletakkan lebih tinggi dari mesin (pada gambar ini ada di depan kaca mobil. Otomatis bahan bakar akan turun (karena gaya gravitasi) dan mengalir ke mesin...
Mesin bisa hidup deh dan kendaraan bisa dijalankan...
Beginilah mudahnya kalau karburator.

Namun bagaimana yang mobilnya sudah injeksi?
yah ini agak susah, karena injector bahan bakar butuh tekanan tertentu supaya pengabutan bahan bakar oleh injector ke ruang bakar mesin bisa bagus...

Mau nggak mau, bagi kendaraan yang mengaplikasi injeksi bahan bakar electronic harus mengganti fuel pump nya jika komponen ini rusak.

Balik lagi ke masalah kemungkinan dugaan sengaja membuat bahan bakar subsidi menjadi jelek,
tolong donk.... main-nya lebih cantik...
Jangan cara kasar seperti ini...
katakan pahit kalau memang pahit, tapi meskipun sakit pun hanya sebentar kok...
daripada luka karena merasa ditipu habis-habisan...

Kalau memang mau menghapus bahan bakar bersubsidi, tolong bikin keputusan yang lebih baik...

Kenapa sih Rakyat Indonesia masih mau beli bahan bakar subsidi?
Karena harganya lebih murah...

Kenapa Harus beli bahan bakar subsidi?
Karena rakyat butuh beraktifitas menggunakan kendaraan pribadinya.

Kenapa Rakyat naik kendaraan pribadi daripada kendaraan umum?
Karena kendaraan umum biayanya lebih mahal, waktu tempuhnya lama, dan mayoritas kendaraan umum untuk kelas menengah sampai kelas bawah itu tidak aman & nyaman. Udah gitu belum kalo macet tr

Solusinya?
Bikinlah angkutan umum yang lebih menarik daripada angkutan pribadi.
Buatlah angkutan umum itu aman, nyaman, enak, cepat, dan terutama murah...

Buatlah supaya rakyat lebih memilih naik angkutan umum daripada kendaraan pribadi. 
Kalau angkutan umum lebih banyak keuntungannya daripada angkutan pribadi, bukan tidak mungkin mayoritas rakyat pasti akan naik angkutan umum yang nyaman, aman, dan murah dibanding rakyat harus beli kendaraan pribadi dan keluar biaya lagi buat operasional kendaraan pribadi mereka.

Lalu bagaimana caranya, lalulintas sudah sangat padat?
Kalau dirunut dari masalahnya, padatnya lalulintas itu kan karena banyak orang...
Nah coba deh pembangunan negara ini lebih desentralisasi.
Kalau semuanya tidak harus berpusat di kota besar, rakyat pun mencari nafkah tidak perlu harus di daerah kota besar.

Cobalah jangan segalanya diurus di pusat...
Apa-apa harus ke pusat... 
Yah mau gak mau jadi mencari nafkahnya juga ke arah pusat... rame deh di pusat... macet deh... kendaraan umum macet... yah pilih naik kendaraan pribadi lah...
Apalagi kendaraan umum trayeknya muter-muter, jadi gak efisien buat kebanyakan orang...
Makanya kendaraan pribadi lebih diminati daripada kendaraan umum.

Coba dengan sungguh-sungguh ratakan pembangunan, kalau di desa saja bisa sejahtera, rakyat juga gak akan bela-bela-in merantau ke kota kok...

Rakyat merantau ke kota kan untuk mengadu nasip menjadi lebih baik (terutama dalam hal ekonomi).

Karena Rakyat merantau ke kota-kota, maka ramailah kota tersebut, lalu-lintas-pun ramai.
Transportasi yang cepat, aman, dan nyaman di lalulintas yang ramai menjadi pilihan Rakyat... Apaat tuh? Yah kendaraan pribadi (bagi yang mampu beli).

Kenapa Rakyat gak mau pakai transportasi umum?
Yah itu tadi, udah waktu tempuhnya lama (muter-muter, nge-tem, macet), trus kurang aman, nyaman, dan aman... Makanya pilih pake kendaraan pribadi.

Kendaraan pribadi inilah yang paling banyak mengkonsumsi bahan bakar subsidi.
Kenapa?
ya jawabannya supaya operasional kendaraan pribadi tersebut bisa murah... Dan uang bisa dipakai untuk menghidupi keluarga...

Wah panjang banget yah jawabannya...
Udah ah... dicepetin aja...

Saran saya buat pemerintah,
Main yang cantik donk....
Bikin kebijakan yang oke...
*saya tidak nuduh pemerintah atau BUMN pemerintah ada di belakang ini loh, saya cuma coba beri solusi gimana caranya mencari alternatif lain dari masalah ini.

Ayo lah benar-benar ratakan pembangunan di seluruh indonesia... Beri rakyat Indonesia jaminan bahwa hidup di pelosok dalam indonesia pun bisa makmur.

Lalu Ciptakan transportasi umum yang ENAK, AMAN, NYAMAN, CEPAT, dan terutama MURAH supaya masyarakat berfikiran bahwa naik transportasi umum itu lebih untung daripada naik kendaraan pribadi.

Jika transportasi umum bisa membuktikan lebih baik dari transportasi pribadi, bisa saja kan muncul opini masyarakat seperti ini:
  • Ngapain naik kendaraan pribadi kalau kendaraan umum saja sudah ENAK serasa pakai kendaraan pribadi.
  • Ngapain naik kendaraan pribadi kalau kendaraan umum saja sudah AMAN serasa pakai kendaraan pribadi.
  • Ngapain naik kendaraan pribadi kalau kendaraan umum saja sudah NYAMAN serasa pakai kendaraan pribadi.
  • Ngapain naik kendaraan pribadi kalau kendaraan umum saja sudah LEBIH MURAH BIAYAnya dibanding harus beli dan pakai kendaraan pribadi (ditinjau dari segi harga beli, pajak, biaya operasional, dan biaya perawatan)
Kalau pemerintah bisa bikin angkutan umum yang mengalahkan keuntungan menggunakan kendaraan pribadi, dijamin deh Rakyat pasti mau pake kendaraan umum dibanding kendaraan pribadi.

Pemerintah pun tidak perlu pusing-pusing mikirin subsidi bahan bakar...

Mungkin juga tidak perlu ada "cara kasar" untuk mengalihkan Rakyat agar menggunakan bahan bakar non-subsidi...
*ini baru mungkin lho... kalo ngerasa tersinggung, yah berarti yang tersinggung itu emang bener berbuat demikian...
(kalo gak merasa tersinggung sih gak perlu marah)

Semoga ada hikmah dari peristiwa ini...

Ingat,
Malaikat selalu bekerja setiap waktu (non stop) dan Tuhan selalu mengawasi kelakuan kita... tidak ada satupun yang luput dari pantauannya...
Katakan pahit kalau itu memang benar tujuan akhirnya baik meskipun itu sakit,
daripada tidak mengakui tapi malah mebuat banyak orang dendam kepada kita...