Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2015

Waze Safe Mode Kids

Jika anada sudah menggunakan navigasi Waze,

Coba deh ubah suara pemandu navigasinya menjadi Safe Mode Kids


Dengan suara panduan akan kecil, diharapkan kita bisa lebih berhati-hati dalam mengemudi...
Yah semoga tujuan dari Maxis membuatkan suara anak kecil sebagai pemandu navigasi di waze dapat tercapai.

cara mengubahnya sebagai berikut...

Selasa, 09 Juni 2015

Air Panas Microwave

Dapat dari group WhatsApp
(tidak tahu siapa yang buat artikelnya)

Semoga tidak terjadi pada keluarga kita...

Boil Water in the Microwave Step 3 Version 2.jpg
sumber foto : wikihow.com

Dangerous - Boiling Water With Microwave

Anak saya yang berumur 26 tahun memutuskan untuk membuat minuman kopi. Ia mengambil secangkir air & dipanaskan ke dalam microwave untuk dipanaskan sampai mendidih (sebagaimana sering dia lakukan sebelumnya).

Senin, 18 Juli 2011

Minum Obat Cacing

Seperti biasa,

Setiap 6 bulan sekali saya selalu membeli dan meminum obat cacing. Untuk memudahkan mengingatnya, saya selalu beli di bulan januari (bulan ke-1) dan bulan juli (bulan ke-7)
Kemarin saya sekalian membelikan obat cacing untuk adik saya...

Pas saya berikan ke adik saya, dia biasanya sih mau, tapi kemarin dia menolaknya...
"nggak usah lah", begitu jawabnya...

Ya sudah, saya juga nggak maksa,
Saya simpan saja obat cacingnya buat saya minum 6 bulan ke depan...
Hmmm... sedih sih adik saya nggak mau minum obat cacing tersebut... Padahal maksud saya baik... :(

Lalu saya tiba-tiba ingin sekali mencari artikel tentang perlunya obat cacing untuk manusia.
Dari sekian banyak artikel, saya mendapatkan penjelasan/ artikel yang rasanya paling baik di detik health

ini dia saya copy paste...

Semoga berkenan...
*bagi saya, sengaja di copy paste disini agar menjadi pengingat untuk saya pribadi... Jika suatu saat ada yang nanya tentang obat cacingm saya tinggal refer ke blog saya ini...

Cacingan Merampas Kecerdasan Anak

Jakarta, Cacingan sampai saat ini masih dianggap sebagai penyakit tidak elit dan sering disepelekan. Cacingan juga kerap dianggap penyakit jorok atau penyakit golongan sosial ekonomi rendah. Tapi jangan salah, penyakit ini bisa menimpa siapa saja. Parahnya, cacingan juga bisa merampas kecerdasan anak.

Cacingan adalah penyakit yang mudah menular. Faktor penyebabnya antara lain yaitu iklim tropis yang lembab, kepadatan penduduk yang tinggi, sanitasi yang buruk, tinja yang dijadikan pupuk di kebun, kurangnya pengetahuan masyarakat dan kondisi tanah (liat, humus).

Disela-sela acara seminar 'Bagaimana Membentuk Seorang Anak yang Sehat, Cerdas dan Berkualitas' yang digelar di Gedung IASTH FKUI, Sabtu (10/10/2009), Dr. dr. Rini Sekartini, SpA mengatakan penyakit cacingan bisa menyebabkan anak 5 L yaitu lemah, letih, loyo, lalai, lemas.

Anak yang kena cacingan pun akan menjadi sangat rentan sakit, kurang gizi, hepatitis, rabun mata dan kecerdasan menurun. Suatu survei menunjukkan bahwa 60 hingga 80 persen penduduk Indonesia terkena cacingan, dan 90 persennya adalah anak-anak SD.

Cacingan pada anak bisa diakibatkan oleh berbagai jenis cacing tambang (Ascaris lumbricoides, Necatur americanus, Ancylotoma duodenale), cacing cambuk (Trichuris trichiura), cacig gelang dan beberapa jenis spesies lainnya.

Mengajarkan anak hidup bersih adalah kuncinya. Kebiasaan anak yang makan tanpa cuci tangan atau bermain-main dengan tanah bisa menyebabkan telur-telur cacing tertelan atau masuk ke dalam usus halus dan usus besar kemudian berkembang menjadi larva dan cacing dewasa.

Gejala yang paling sering muncul pada anak cacingan adalah masalah pencernaan seperti nafsu makan berkurang, mual, diare atau sulit buang air besar (konstipasi), penurunan berat badan dan juga menurunkan kecerdasan anak.

"Hal ini terjadi karena cacing merusak mukosa (dinding) usus dan mengambil zat-zat gizi yang berasal dari makanan sehingga anak dapat mengalami gangguan absorbsi makanan bahkan malnutrisi. Kurangnya asupan nutrisi pada anak kemudian akan mengganggu perkembangan sel-sel tubuh, termasuk sel otak. Akibatnya, kecerdasan anak tidak akan berkembang bahkan cenderung menurun," jelas Rini.

Penyakit lain yang bisa muncul akibat cacingan antara lain anemia, TBC dan malaria. Akibat penyakit cacingan kronis dan kekurangan zat gizi, pertumbuhan anak menjadi terganggu termasuk juga perkembangan motorik, bahasa dan kepandaian (kognitif).

Oleh karena itu, Rini menyarankan agar orang tua mengajarkan pada anak untuk membiasakan hidup bersih dengan mandi dan cuci tangan teratur, bermain menggunakan alas kaki dan rutin memotong kuku. Selain itu, orang tua juga harus memutuskan daur hidup cacing dengan cara mencuci sayuran dengan benar, tidak memakai pupuk tanaman yang dicampur kotoran manusia dan memasak makanan sampai matang.

 Sekedar nambahin gambar-gambar cacing yang mungkin ada di tubuh kita (manusia)
 
Tampang-tampang cacing

Ilustrasi cacing di dalam usus manusia


Sudahkan anda dan keluarga minum obat cacing?

Jumat, 15 Juli 2011

Pendidikan di Jepang

Dapet dari...

Artikel yang bagus sekali...
Benar, moral adalah hal yang lebih penting daripada sekedar ilmu...
Sepintar-pintarnya manusia kalau moralnya tidak baik akan percuma juga...

Semoga artikel ini bisa jadi renungan khususnya untuk saya pribadi jika suatu saat kelak saya dipercaya oleh yang maha kuasa untuk merawat, mendidik, dan membesarkan anak... amin...

ditulis oleh:

Junanto Herdiawan

Ekonom dan penggiat ilmu filsafat. Hobi jalan-jalan dan makan-makan. Saat ini tinggal dan bekerja di Tokyo. Bertugas mencermati dinamika ekonomi Jepang, Cina, Korea, Taiwan, dan Hong Kong.



Moral di SD Jepang

REP | 03 July 2011 | 06:28

Rak Sepatu di SD Jepang / photo: Junanto

Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.

Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.

Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.

Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.

Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.

Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.

 
Suasana kelas dan orang tua / photo: Junanto

Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.

Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.

Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi. Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.

Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.

Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.

 
Menyiapkan Makan Siang utk teman2nya / foto: Junanto 

Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.

Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.

Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji. Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.

 
Mengantar minuman untuk teman / foto: Junanto

Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.

Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.

Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.

Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.

Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.

Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.

Salam.

Rabu, 20 Oktober 2010

Apakah Anak-anak Indonesia dididik supaya kreatif?

Ada ketawa dan ada sedihnya baca email milis kmaren...

Ada seorang ibu curhat tentang ujian sekolah anaknya yang masih kelas 1 SD.
Begini emailnya...

from : ruth widiastuti
to : IGI
date : Tue, Oct 19, 2010 at 8:52 AM
subject : [IGI] Serba-serbi soal PKn SD kelas 1


Sekedar berbagi, beberapa soal yang saya temui di soal UTS PKN kelas 1 SD (bukan SMP atau SMA , sayangnya :) )

1. Yang harus bekerja mencari nafkah adalah ..
    a. ibu                         b. ayah                        c. kakek

(my daughter's response : 'bunda, mencari nafkah itu apa? Oh bekerja.. kalau
gitu jawabannya ada dua ya? Kan bunda dan papa kerja ' hahhaha)

Berikut adalah soal essay
2. Yang bertugas mengatur rumah tangga adalah ....  (anak saya lagi-lagi
bertanya 'bunda' rumah tangga' itu apa ? )

and here is my favourite :

3. Merapikan tempat tidurku adalah ..... (jawaban anak saya 'membantu orang tua'
dan disalahkan oleh gurunya yang betul 'membantu saya sendiri' . Anak saya
protes karena setiap kali saya bilang 'Tolong bunda ya , rapikan tempat tidurmu
sendiri' nah lho!

Salam membuat soal!

Ruth


Nah bingung kan?
Coba aja lihat soal nomer 1 dan nomer 3.
Jaman sekarang sudah berubah, tapi kenapa pendidikan kita masih seperti "doktrin" dan anak tidak diajak berfikir kreatif...

Ada lagi soal begini,

from : Dhitta Puti Sarasvati
to : ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
date : Tue, Oct 19, 2010 at 9:02 AM
subject :  Re: [IGI] Serba-serbi soal PKn SD kelas 1


Wah baru saja teman saya curhat kemarin. PR adiknya :
Apa warna jambu?
a. Merah b. Hijau c. Kuning

Dan adiknya menjawab hijau, tetapi disalahkan. Kata gurunya seharusnya merah.

Lalu di pelajaran IPS kelas 2 SD pertanyaannya:
Sebutkan kolom-kolom yang ada di kartu keluarga!
Lah jaman sekarang kan warna buah udah macem-macem,
Jambu tidak selalu harus merah...
Pertanyaannya juga kurang spesifik, jambu apa? berbeda jenis jambu bisa berbeda warnanya...


Coba baca-baca link ini...
http://matasemesta.multiply.com/journal/item/85/NASKAH_SOAL_BAHASA_INGGRIS_ULANGAN_UMUM_NGAWUR


Nah bagaimana bisa wana apel harus merah?
Apel kadang ada yang warna hijau, agak kekuningan, dsb...
Anak mana tahu apel di gambar soal tersebut warnanya merah? Lembar soalnya saja hanya dicetak pakai tinta warna hitam.

Dulu saya juga sering disalahin kalau jawab seperti itu.
Tapi dulu saya memang agak konyol dalam mempertahankan pendapat, dan akhirnya guru-guru saya mengalah dan mengakui bahwa saya ada benarnya juga.

Saya kira sekarang jaman sudah berubah, ternyata belum berubah 100%.

Coba lihat lagi soal yang ini...



Konyol juga tuh...
Lihat deh gambarnya, wajar donk kalau si anak menjawab kasih sayang seorang pembantu.
Mungkin ibu-nya adalah seorang ibu yang modis, dan dandananya rapih, sedangkan yang berpakaian seperti itu dirumahnya adalah pembantunya.

Seharusnya wajar saja kalau si anak menjawab kasih sayang seorang pembantu.
Yang tidak wajar dan patut disalahkan yaitu jika anak menjawab kasih sayang seorang ayah.
Betul nggak?


Saya belum menikah dan belum punya anak. *punya pacar aja belum... hahaha...
Saya belum tahu juga rasanya mendidik anak.
tapi saya khawatir jika pendidikan di indonesia seperti ini terus, generasi kita akan susah bersaing karena tidak dilatih untuk berfikir kreatif dan sesuai dengan lingkungan, minat, dan perkembangan jaman dimana dia hidup...

Semua soal rasanya harus diselesaikan dengan "jalan/ cara" yang sudah ada (baku).
Jika si anak menjawab dengan "alternatif" lain dan menyimpang dari kunci jawaban soal ujian, maka jawaban anak akan disalahkan.

Ibaratnya kalau dari jakata ke bandung harus lewat tol cipularang, maka jawaban lainnya seperti lewat jalur puncak, sukabumi, atau purwakarta akan disalahkan. Padahal jawaban alternatif tersebut juga bisa sampai ke bandung.
Bayangkan kalau tol cikampek macet total, sedangkan jalur lainnya tidak?
Apakah harus tetap lewat cipularang untuk sampai ke bandung?
Nggak kreatif kan?
Sedangkan generasi lainnya (dari negara lain yang merupakan pesaing dia) dididik secara kreatif...
Tidak heran kalau jumlah "orang jenius" di indonesia tidak begitu banyak, lah dari saat dia masih kecil mayoritas dididiknya seperti itu

Coba bayangkan mental anak tersebut. Meskipun sebenarnya jawaban dia juga benar, tapi dia akan menjadi anak yang tidak berani berkreasi meskipun dia benar (karena takut salah, dsb).

Ambil contoh kasus warna apel, anak di doktrin warna apel adalah merah. Sedangkan ilmuwan pertanian jaman sekarang sudah maju, warna buah bisa dibuat bervariasi dengan rekayasa genetika...

Mungkinakah indonesia menjadi bangsa yang kreatif kalau pendidikan kita terus seperti ini?
Apakah mungkin warga dunia menjadi ingin (bahkan berebutan) untuk bersekolah di indonesia atau sebaliknya (orang-orang indonesia yang lebih memilih sekolah ke luar negeri?)

Kita sudah bisa menerka jawabannya....

Saya tidak menyalahkan (mengkambing hitamkan) sistem pendidikan kita,
tulisan ini hanya dibuat untuk renungan saja (khususnya bagi saya pribadi) agar kita bisa berkaca dan mencari solusi dan terlibat untuk memperbaiki pendidikan kita demi masa depan generasi kita...

Semoga masa depan Indonesia bisa menjadi lebih baik di masa yang akan datang... amin...
Mari bergerak dan berubah mulai dari sekarang...

Sumber artikel dan foto:
ikatanguruindonesia@yahoogroups.com
http://matasemesta.multiply.com/