Kamis, 13 November 2008

Kebakaran?













TEORI DASAR API

Sebelum melakukan pemadaman Barisan Sukarelawan Kebakaran ( Balakar) sedikitnya harus mengetahui teori dasar api, agar tepat sasaran.





Pertemuan para ahli kebakaran di seluruh dunia telah menghasilkan suatu kesimpulan bahwa asal mula timbulnya api berasal dari bertemunya tiga unsur yakni BAHAN (Fuel) , UDARA (Oxygen) dan PANAS (Heat) pada suatu titik bakar tertentu.









Penyebab terjadinya kebakaran dibagi dalam lima hal. yaitu...
1. Manusia karena
ada unsur kesengajaan (dendam, ganti rugi), tidak disengaja (lupa), kecerobohan (nekat), ketidaktahuan (masa anak-anak), dan lupa ingatan (gila).
2. Alam seperti
petir, gunung meletus, gempa bumi, cuaca panas.
3.
Hewan, seperti kucing dan tikus. 4. Listrik seperti kabel, Saklar (off/ on) steker, MCB dan sekering.
5. Nyala Sendiri (Nah loh, tuh hebat kan bisa nyala sendiri? Takdir tuh...).

Dari teori Dasar Api tersebut diatas maka, apabila terjadi kebakaran perlu dihilangkan salah satu unsur dasar tersebut sehingga api menjadi mudah dipadamkan.


KLASIFIKASI KEBAKARAN.


*Klik pada gambar untuk memperbesar gambar tabel


Tabel di samping (kiri) menjelaskan tentang cara pemilihan alat pemadam kebakaran (isi tabung pemadamnya) berdasarkan kelas-kelas jenis/ klasifikasi kebakarannya.







Kebakaran diklasifikasikan dalam 4 kelas.

Kebakaran Kelas A, disebut kebakaran benda-benda PADAT diakibatkan karena terbakarnya kertas, kayu, plaslik, karet, dan lain-lain. Pemadaman api yang termasuk dalam klasifikasi ini, bisa dilakukan dengan menggunakan peralatan tradisonal maupun moderen.

Kebakaran kelas B, yakni kebakaran benda CAIR dan GAS akibat minyak tanah, bensin, gas elpiji dan lain-lain. Pemadaman api akibat kebakaran jenis ini tidak diperkenankan menggunakan air karena hanya akan mengakibatkan kobaran api bertambah besar disebabkan berat jenis Bahan Bakar Minyak lebih ringan dari air.

Kebakaran kelas C, yakni kebakaran LISTRIK akibat travo, kabel, dan atau tempat kebakaran yang masih ada arus listrik. Jika terjadi kebakaran yang termasuk klasifikasi ini atau kebakaran kelas A tapi masih mengandung Kelas C, proses pemadamannya jangan sekali-kali menggunakan air karena akan membahayakan petugas dan unit pemadam itu sendiri, karena air merupakan penghantar arus listrik yang mengakibatkan sengatan dari arus listrik (Bisa kesetrum tuh! Zzzzzzzzzzzzzzzzzzttttttt.... Awww).

Kebakaran kelas D, disebut kebakaran KHUSUS / LOGAM yang terdiri Besi, Aluminium, dan Bahan Kimia. Kebakaran ini memang jarang terjadi dan apabila terjadi sangat sulit dipadamkan. (Tapi inget apa kata bang pemadam kebakaran, "kebakaran bisa terjadi tanpa ada niat dari pelakunya, tapi juga apabila ada takdir. Waspadalah.....Waspadalah.....")

Kebakaran kelas K, yaitu kebakaran yang disebabkan oleh bahan-bahan masakan di dapur. Misalnya minyak gorang, lemak, dsb. Kebakaran ini mirip dengan Kelas B, di indonesia belum begitu mengenal kebakaran kelas K ini.


Berdasarkan klasifikasi ini, apabila terjadi kebakaran, warga masyarakat dan petugas pemadam kebakaran harus terlebih dahulu memastikan jenis kebakaran yang sedang terjadi sebelum melakukan tindakan pemadaman, sehingga dalam mengatasi api tidak salah dan tepat sasaran.


SARANA DAN PRASARANA

Proses pemadaman api bisa digunakan melalui dua yakni cara tradisional dan moderen. Cara tradisional, dengan menggunakan Pasir, Tanah, Daun-daunan, Karung goni, Handuk, Selimut, Air, Gepyok, Ganthol, Kentongan, Senter, Ember. Peralatan ini hanya dipergunakan untuk mengatasi kebakaran awal.

Selain itu, Sarana dan Prasarana Modern seperti Unit Mobil Pemadam, Unit Mobil Tangga, Unit Mobil Snorkle, Unit Mobil Resque, Unit Mobil Tangker, Unit Mobil Peralatan (RESCUE), Unit Mesin Pompa portable (Treller), Hex 3000, Hydrant dan Box Hydrant, APAR(Alat Pemadam ApiRingan), Sprinkler, Ditektor ( Alarm System ), Breathing Aparathus (BA), BajuTahan Api, Baju tahan Panas, Helmet, Masker, Tangga Darurat, Lift Kebakaran, Besilorot, Bak Tandon Air (Falcon Hydrant), Helykopter, Fire Blangket (Selimut anti Api) juga digunakan .


TENIK PEMADAMAN

Ada 4 macam teknik pemadaman yang berlaku apabila terjadi bencana kebakaran, antara lain:

1. Sistim Urai adalah memadamkan api pada benda yang terbakar dengan cara diganthol atau dirobohkan sehingga semua benda yang terbakar berada dibawah, dan dapat mempermudah proses pemadaman. Sistim Urai ini biasa dipakai oleh masyarakat dengan sarana dan prasarana tradisional.

2. Sistim Pendinginan adalah pemadaman dengan cara mengurangi suhu panas benda yang terbakar dengan disiram air sehingga makin lama benda yang terbakar itu dingin dan api akan padam. (hanya untuk kelas A ) Sistim Pendinginan biasa dipakai oleh petugas pemadam kebakaran dengan menggunakan unit mobil yang sudah siap dengan airnya.

3. Sistim Isolasi yakni mengisolir benda yang terbakar sehingga tertutup permukaannya dan udara tidak dapat masuk ke benda itu, maka api akan padam. Sistim Isolasi ini biasa dipakai oleh Masyarakat atau petugas dalam pemadaman menggunakan sarana dan prasarana modern seperti APAR (Alat Pemadam Api Ringan).

4. Sistim Lokalisasi yaitu dengan cara melokalisir areal kebakaran agar api tidak menjalar dan meluas ke wilayah kebakaran. Sistim lokalisasi biasa dipakai secara tradisional maupun modern yang intinya memadamkan kebakaran dari tepi agar tidak menjalar ke bangunan atau bahan lain.

Salah satu faktor yang sangat menunjang keberhasilan tindakan pemadaman pada saat memadamkan kebakaran, adalah ketepatan pemilihan media pemadaman yang dipakai.




HAL PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN

Hal penting yang harus diperhatikan dalam melakukan pemadaman :

1. PERHATIKAN ARAH ANGIN dengan melihat lidah api. Dalam melakukan pemadaman petugas harus membelakangi arah atau menghadap searah dengan arah angin.

2. PERHATIAN JENIS KEBAKARAN. Petugas harus mengetahui jenis kebakaran termasuk dalam kelas A, B, C, atau D. ( Lihat klasifikasi ).

3. MASIH ADAKAH KORBAN YANG HARUS SEGERA DITOLONG ?

4. Boleh melakukan pengrusakan terhadap bangunan yang ada untuk mendukung kelancaran pemadaman maupun evakuasi.

5. AMANKAN BARANG YANG MASIH BISA DISELAMATKAN.

6. Laporkan hasil penanganan penanggulangan tersebut kepada Pimpinan Tim untuk segera ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur tetap yang berlaku.


Warga masyarakat yang memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR) bisa digunakan apabila terjadi kebakaran. Namun, mengingat alat itu sendiri bila digunakan tidak sampai 1 menit habis, maka perlu diperhatikan cara-cara penggunaan APAR secara efektif dan efisien.




Langkah-langkah penggunaan APAR yang benar adalah...

1.Cabut pen Pengaman.

2.Pegang Pengatup dengan telapak tangan.

3.Pegang Pemancar.

4.Tekan Pengatup.

5.Arahkan Pancaran ke Titik atau Pangkal Api sampai merata.







Hal-hal yang harus diperhatikan di saat menggunakan APAR adalah...
1. perhatikan arah angin (dengan melihat lidah api ) pemai harus membelakangi arah angin dan tidak berlawanan dengan arah angin.
2. Arahkan corong pada titik atau pangkal Api yang paling tipis.

3. Perhitungkan atau Perhatikan jalan keluar bila digunakan pada suatu ruangan,
Semprotkan pada sela-sela benda yang terbakar, Usahakan untuk menahan napas dan memakai masker, Gunakan secara efisien dan efektif.



Sumber...
Atrikel:
http://mediainfokota.jogja.go.id/detail.php?berita_id=96
Foto:
http://www.digitalexcellent.com/Home-Security/32687332.gif
http://ojeg.wordpress.com/2007/11/20/abis-latian-pemadam/
http://tigabolaemas.com/category/fire-extinguisher/