Pages

Senin, 03 Desember 2012

Fotografi ala Darwis Triadi

Hmmm... baru sempet nulis...

Hari sabtu tanggal 3 November 2012, saya diajak Oleh Astra Honda Motor (AHM) ikut Workshop singkat Fotografi bersama fotografer profesional yang sudah tidak asing lagi yaitu om Darwis Triadi.

Waw...

Meskipun saya tidak punya kamera, tetapi saya tetap diajak... (wah terimakasih AHM)

Saya akan berbagi info tentang apa yang saya dapat selama mengikuti acara tersebut...
Saya lebih banyak mem-video-kan acara tersebut, jadi foto-foto di artikel ini yah kualitasnya adalah kualitas video handphone. hehehe...
 

om Darwis bercerita,


Fotograsi jaman sekarang sudah dibuat semakin mudah berkat adanya teknologi.
Pada dasarnya teknologi sekarang dibuat untuk mempermudah, segala sesuatu permasalahan/ kendala dibelakangnya sudah dipikirkan dan bahkan terus disempurnakan oleh si produsen kamera...

"Teknologi jangan kita pikirin, tekonologi kamera sih biar jadi urusan si Jepang (produsen kamera)", begitu kata om Darwis...

Kadang seorang (yang mengaku) fotografer terlalu memikirkan itu,
padahal tugas kita (yang mau motret) itu hanya MELIHAT, MERASAKAN, dan JEDER (nembak/ ambil gambar)...

Biarin masalah teknologi si Jepang (produsen) nya itu yang memikirkan...

Tugas kita itu hanya "BAGAIMANA SI KAMERA ITU SEBAGAI ALAT SAJA"



Kita mulai...

Foto = Cahaya

Untuk mengambil foto/gambar, butuh kamera

Didalam mengabadikan gambar, perhatikan 3 poin penting ini:
  1. ISO
  2. f
  3. Speed
Kadang orang terlalu banyak mikir, ini pixelnya berapa? Nanti noise? dan sebagainya...
Akhirnya dia malah nggak jadi-jadi mengabadikan gambar...

Padahal sekali lagi cukup 3 hal diatas yang perlu kita pikirkan...
Komposisi 3 komponen diataslah yang bisa menangkap cahaya dan menghasilkan foto...
Kata om Darwis, "JADI HANYA SESEDERHANA INI"

Jadi kita harus tahu:
  • Berapa ISO yang kita perlukan?
  • Berapa f yang kita perlukan?
  • Berapa Speed yang kita perlukan?
Sekali lagi "TUGAS" kita hanya perhatikan itu...

Sambil bercanda om Darwis bilang... "terkadang banyak orang suka melakukan hal yang kurang diperlukan, misalnya tugas orang lain mau kita ambil, rejeki orang lain mau kita ambil, dan sebagainya"... Pesertapun tertawa mendengar itu......

Mulailah dibahas...

ISO itu untuk Kepekaan Cahaya

om Darwis kembali bercerita,
Jaman dulu kalau dia motret itu selalu bawa banyak roll film yang variable (bermacam-macam), ASA 100, 400, 3200, Slide, Black & White. Jadi satu tas besar itu isinya roll film semua.

Sekarang kalau dia mau motret cuma bawa 1 kotak kecil berkapasitas 128 GB...
Jadi sekarang dengan adanya teknologi itu semakin mempermudah kita...
Namun kita jangan terlena, semua sistem dari teknologi itu hanya mempermudah kita dalam bekerja. Tetap basic dari fotografi adalah CAHAYA... Tanpa cahaya, fotografi tidak akan bisa bekerja.

Bener juga yah? ngapain juga motret suasana gelap tanpa cahaya?
Hehehe...
Makin terbuka pikirannya...

Jadi kita harus belajar tentang cahaya,
misalnya "kok gelap? Ya kita buka flash trus jebret (motret)"

om Darwis berkata "Fotografi adalah Mengeksploitasi Cahaya"

Cahaya sekecil apapun bisa kita jalankan (bisa difoto),
Nggak seperti dulu, kalau dapet cahayanya kecil itu "celaka",
Kenapa?
Karena kita harus pakai tripod...
Sekarang, jika kita mendapati cahayanya sekecil apapun, ASA nya tinggal kita naikkan...

Ada pertanyaan "kalau ASA nya tinggi, nanti noise?"
Nah kembali lagi tuh, orang yang bertanya seperti ini memikirkan hal yang bukan "jatah" (kemampuan) kita, padahal yang harus dikikirkan hanyalah 3 hal yang disebutkan om Darwis sebelumnya.

Om Darwis bilang,
Noise itu adalah urusannya "si Jepang" (negara pembuat kamera)
5 tahun yang lalu ASA 400 dicetak pasti buyar... nggak bisa bagus...
Tapi sekarang, om Darwis nyetak pakai ASA 3200 saja dicetak ukuran 1 meter sudah bagus...

Sekali lagi om Darwis menekankan,
masalah ASA biarlah produsen yang memikirkan itu, bahkan sekarang ada ASA yang sudah mencapai 50.000.
Bisa jadi 5 atau 10 tahun mendatang, ASA itu sudah unlimited (infinity)...

Kembali peserta ditekankan, "Lihatlah Cahaya itu dengan Tepat"
Kalau kita tidak memperhatikan itu, kita nantinya hanya akan berkutat pada teori, padahal fotografi itu bukan sekedar teori.

om Darwis bilang, "Belajar Fotografi itu seperti belajar agama, kita harus menggunakan logika kita"
Sekarang ada orang yang disuruh nge-bom bunuh diri dengan jaminan masuk surga aja mau...

tuh catet....

Dia kasih contoh,
ada yang bilang "Full-Frame dengan bukan Bukan Full-Frame lebih tajam yang Full-Frame"
itu salah...
Full-Frame tidak ada kaitannya dengan sistem,
Digital Fotografi itu sama semua, yang dijual adalah sistem...

Full-Frame dengan Non Full-Frame hanyalah seperti beli TV 50" dengan TV 32"

TV 50" kalau kita nonton dari jarak 4 meter mungkin akan kelihatan sama seperti kita nonton TV 32" dari jarak 1 meter...
Masalah ketajaman sih sama saja...

Hal-hal yang tidak perlu seperti ini masih banyak "diurusin" sama kebanyakan orang yang sudah mulai memotret...

Hah iya tuh...
Kebanyakan mikir atau ngerjain yang gak perlu...

Lanjut...
si Om bilang, "kedepannya, masa depan fotografi adalah  micro-foto (gak tau dah bener nulisnya apa nggak)
artinya, cermin penangkap cahaya di dalam kamera itu dihilangkan

Dari dulu, problem yang ada itu di kaca-nya.
kaca (cermin pada kamera) itu seperti usus buntu di manusia. Kita tidak bisa berharap lahir tanpa usus buntu...


Sekarang kaca sudah tidak diperlukan karena cahaya yang ditangkap sudah tidak masuk film seluloid lagi, tapi sudah masuk sensor (CMOS).

Semua brand akan mulai beralih ke mirrorless technology...
Namun mereka masih harus "balik modal" riset kamera ber-cermin, maka peralihan ke teknologi mirrorless belum langsung berubah drastis.


Lanjut,

Diafragma (F),

diafragma itu untuk membuat efek jarak ketajaman...
Kalo dalam istilah fotografi lebih sering disebut Depth of Field (DOF)

Menggunakan F 2.8 dengan F 11, mana yang lebih tajam?

Semuanya tajam...
Perbedaannya hanya pada jarak ketajamannya...

Contohnya berikiut...

ini yang F1.8


dan ini yang F 8


Jadi, F 1.8 dengan F 8 hasil fotonya tajaman yang mana?

Ya sama-sama tajam...
Tapi orang suka ribut masalah perbedaan F ini.

Kembali dijelaskan dan ditekankan,
Sharpness (ketajaman) dengan Depth Of Field (efek jarak ketajaman) itu beda...
Makanya ada lensa dengan tipe yang bermacam-macam.


Jadi misalnya kita beli lensa F 1.8 tapi nggak berani pake di F 1.8 dan hanya malah bermain di F 8, yah rugi... nggak "cingcay" istilah dagangnya...

Jadi sekali lagi, fungsi diafragma adalah membuat suatu objek dengan ketajaman yang berbeda...

Kalau kita mau fokus belakang juga bisa


Nih hasilnya,
depannya nggak jelas tapi orang di belakangnya bisa jelas terlihat.



Lanjut ke...

S (Shutter Speed/ Kecepatan kamera),

Biasanya dimulai dari satuan B,
B itu untuk long exposure... jadi dia bisa saja sampai 3 jam kebuka terus lensanya tergantung sekuat apa battery nya...
dan satuan S ada yang bisa mencapai 1/8000 detik.


Fungsi B digunakan kalo objeknya mau dibuat semacam bergerak memanjang...
Hmmm begini kira-kira...
Memotret malam hari dan cahaya yang bergerak mau dibuat seperti garis.

Kalau kita motret night photography dengan tripod ingin gedungnya tajam dan cahayanya bergerak, kita pakai speed yang pelan ini...

Menggunakan Speed 1/20 (yang bisa dibilang speed lambat) bisa menghasilkan foto yang tidak goyang asalkan objeknya juga tidak goyang (tidak bergerak)

Yang paling aman kita atur speed di 1/60 atau 1/125.

Kalau kita mau panning mobil dengan 125 masih bagus...
Tapi kalau becak dipanning dengan 1/125 yah gak pas, karena becak tidak secepat mobil.

Kecepatan objek paling tidak harus imbang dengan shutter speed kamera

Kecepatan dibawah 1/30 harus hati-hati...

Om Darwis kasih contoh,
Memotret dengan speed 1/30 dengan ISO 200




Kecepatan 1/30 masih aman dan terlihat objek yang difoto masih jelas.



Tapi kalau speednya diturunkan menjadi 1/20, hasilnya akan berbeda.
Jika objeknya diam, dia masih bagus...


Nah kalau objecnya bergerak, contohnya menggerakkan tangan, pada speed 1/20 ini akan membuat gambar tangannya berbayang.


Jika menginginkan gambar tangan objek yang bergerak itu diam, naikkan saja speed nya. misalnya jadi 1/320



Seperti sering dikatakan sebelumnya,
ya itu tadi, dalam fotografi perhatiakn 3 poin utama itu dulu saja.

Jika ketiga fungsi (ISO, F, Speed) sudah faham,
Om Darwis membagi kondisi pemotretan sebagai berikut...

Ada istilah INDOOR dan OUTDOOR

Indoor itu kondisi dimana kita melakukan pemotretan yang kekurangan cahaya,
sedangkan Outdoor adalah kondisi pemotretan dimana kelebihan cahaya.

Kalo kita mengalami kondisi kelebihan cahaya sih gampang, gedein aja speed nya kalau kita nggak mau pusing.

Kata om Darwis, "yang repot itu kalau kekurangan cahaya, segala kekurangan kan repot.
"Kekurangan duit kan juga repot... bener nggak?" kata-kata tersebut disambut tawa oleh peserta...

Kalau kurang cahaya,
pakai ISO 400 atau 3200
F yang tepat bisa dipakai F 5.6 (untuk contoh pemotretan di dalam ruangan training ini)

Lensa mahal akan bekerja saat maksimum (wide open) saat dia dipentokin bukaannya (f nya), dia menang di kekuatan optiknya

Speed nya gimana?
bisa dipakai yang manual...
Tapi ada jalan tercepat, pakai saja otomatis. Artinya diafragmanya (f) kita kunci, speednya biar kamera yang mikir.
Istilahnya "konsian" dengan kamera... Kita mikirin angle-nya, formatnya seperti apa, sambil kita lihat komposisinya seperti apa. Biarkan masalah lainnya si kamera yang mikir.

Nah ada cerita unik,
kadang-kadang ada orang yang bilang "kalau pakai mode otomatis jadi nggak seni".
Yang kayak gini sih gak perlu dipedulikan...
Seni itu dari mata bagaimana memandangnya dan mempersepsikannya.

Om Darwis bilang, "dari dulu sampai sekarang tidak pernah menggunakan mode manual pada kamera kecuali sedang menggunakan flash".

Kenapa?
Karena kalau sudah menggunakan flash, sistemnya sudah berbeda.

Sayang tidak membahas flash lebih lanjut, karena katanya akan makin pusing dan butuh waktu lebih lama.


Om Darwis menjelaskan kenapa menggunakan otomatis?
Karena kecepatan kita itu pada umumnya lebih lambat dari kecepatan alat...
Sedangkan objek memotret terkadang terjadi cahaya yang variabel...

Kalau kita misalnya sibuk otak-atik dengan mode manual (setting manual Apperture dan Shutter Speed), wah objek yang tadinya akan kita bidik bisa keburu kabur atau kita kehilangan momen yang ingin diabadikan.

Misalnya...
Motret samping

Lalu pindah mau motret belakang...


Lalu buru-buru motret tengah...


Wah kalau harus atur shutter speed (S) dan diafragma (F) secara manual sih bisa-bisa kehilangan momen yang mau diabadikan...

Padahal apa susahnya sih masukin ke mode automatic?

Lagian gak mungkin kalo kita lihat foto yang bagus lalu kita bertanya "itu foto pake A (automatic) atau M (manual)?"

Kalau ketemu orang yang bertanya seperti ini sih nggak usah digaulin...
Pasti rada nggak bener...
Capek sendiri...
Begitu kata om Darwis.

Intinya kita mau memfoto pakai speed berapa? diafragma berapa? ya suka-suka kita...
Yang penting kita tahu apa yang kita mau.

Kalau misalnya kita mau memotret seperti ini...


Lalu ada orang yang bilang "belakangnya kok nggak tajam sih?"
Nah orang yang bilang begitu yah nggak usah digaulin juga...
hahaha...

Dia bisa saja bilang lagi, "wah lu gak bisa motret tuh, belakangnya nggak tajam",
Dia nggak ngerti bahwa lensa itu bermacam-macam dan banyak variabelnya.


Dikasih contoh sama-sama pakai f 2
Yang ini pakai zoom dari jarak agak jauh....


dan yang ini pakai lensa pendek dengan pengambilan dari jarak dekat...



Nah tinggal pilih...
Suka yang mana?


Lanjut ke masalah  

Komposisi,

Komposisi foto yah tersersah kita, bisa saja modelnya di pojok kanan atau pojok kiri... yah suka-suka kita.
Komposisi inilah yang harus kita explore.


Ada pertanyaan, "komposisi yang bagus yang bagaimana?"
Ya itu terserah selera sang fotografer, karena itu menyangkut masalah selera masing-masing.

Memang ada istilah "golden composition", yaitu 1/3 objek...
Tapi ini sudah jaman dulu...
Sekarang kita sih suka-suka, tergantung si fotorafernya mau meng-explore apa?



Kita coba bahas masalah mode Av



Kalau kita menggunakan Av,
walaupun ini auto juga, tapi kita lebih tahu yang kita mau. Karena diafragma itu kan untuk membuat efek ketajaman (mau tajam di depan atau di belakang). Speednya dia (si kamera) yang atur.

Menggunakan Av ini menurut om Darwis adalah jawaban yang paling mudah dalam berfoto. Kita tidak perlu mikirin hal-hal lain kecuali kita pikirin jenis lensanya saja.


Beralih ke topic  

Memotret objek bergerak (panning),

Seperti digambarkan oleh om Darwis, kecepatan objek paling tidak harus sejajar dengan kecepatan kamera.


Menggunakan speed untuk memfoto benda bergerak paling nggak harus dikira-kira...
Jika melihat objek bergerak seperti kecepatan mobil, untuk amannya gunakan speed diatas 1/125
Tapi kalau kecepatannya terlalu tinggi juga (misalnya 1/500), belakangnya susah bergerak (tidak terlihat efek bergerak).
Jadi kita ambil yang aman yaitu 1/125  sampai 1/250.

Kalau ada becak mau di panning ya cukup 1/20.

Kalau mau panning kita taruh di mode Tv aja, supaya speednya kita kunci di berapa dan diafragmanya otomatis ngikut (ngatur sendiri)


Yah gitu deh sekilas gambaran fotografi singkat yang diberikan om Darwis Triadi.
Semua kamera pada dasarnya sama, tinggal bagaimana kita menggunakannya agar mendapatkan hasil foto yang kita mau...

Duh jadi pengen beli kamera mirrorless...
Hahahaha...
*kena racun dari om Darwis

Terimakasih PT Astra Honda Motor...
Terimakasih juga buat om Darwis Triadi dan kru...

Reaksi:

6 Comments:

Poskan Komentar