Minggu, 03 Desember 2006

Bahaya Mendengkur

By: Andreas A. Prasadja


Bahaya Mendengkur

Tulisan ini untuk memperjelas topik sebelumnya (migrain) yang mengarah pada gangguan tidur bernama Sleep Apnea.

Mendengkur adalah hal yang biasa bagi orang kebanyakan. Dengkuran yang keras sering diasosiakan dengan tidur yang amat lelap, yang mungkin diakibatkan oleh kelelahan. Bahkan di antara keluarga atau para sahabat di saat liburan bisa menjadi bahan canda yang amat lucu. Pakde Joko mendengkur seperti mesin gergaji… Atau Bude Santi punya kodok tersembunyi… Tapi tahukah Anda, bahwa ada bahaya yang mengancam dibalik dengkuran saat tidur?

Bahaya tersebut dikenal dengan sebutan Obstructive Sleep Apnea (OSA,) yang artinya adalah henti nafas waktu tidur yang disebabkan oleh menyempitnya jalan nafas. Dan mendengkur adalah gejala utama yang paling mudah dikenali pada penderita OSA. OSA disebabkan oleh penyempitan jalan nafas atas secara periodik di waktu tidur. Menyempitnya jalan napas disebabkan oleh faktor keturunan, kegemukan, dan konsumsi alkohol atau obat tidur.

Ketika otot-otot lidah melemas, ia akan terjatuh ke belakang dan menyumbat saluran nafas. Akibatnya nafas akan terhenti (apnea) sebentar atau nafas menjadi dangkal (hypopnea). Si penderita biasanya terbangun tiba-tiba dengan nafas terengah-engah dan berkeringat tanpa tahu penyebabnya. Lebih sering lagi, penderita sama sekali tidak terjaga, walaupun gelombang otak menunjukkan periode bangun. Ini di sebut sebagai mini arousal, dimana si penderita tidak tahu/ingat dirinya terbangun. Periode ini terjadi berulang sepanjang malam yang mengakibatkan proses tidur yagn terpotong-potong. Jika tidur sudah terganggu, kegiatan di siang hari pun terganggu oleh kantuk. Akan tetapi pada tahap awal penderita OSA bisa saja tidak menyadari gangguan yang dialaminya, bahkan ia sendiri tidak tahu bahwa dirinya seorang pendengkur. Justru orang lain yang mengetahui, karena terganggu oleh dengkuran di saat tidur. Akibatnya, OSA sering kali tidak dirawat.

OSA mengakibatkan berkurangnya oksigen yang masuk ke dalam tubuh, terutama otak. Jika dibiarkan tanpa perawatan biasanya dapat berakibat fatal, seperti hipertensi, serangan jantung, impotensi, stroke, denyut jantung yang tidak teratur serta penyakit-penyakit jantung lainnya. Menurut sebuah artikel dalam New England Journal of Medicine (Maret 2005,) penderita gangguan jantung dengan OSA mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami kematian mendadak pada jam-jam tidur. OSA juga dapat mengakibatkan masalah serius lainnya sebagai akibat kurangnya kualitas tidur, seperti kecelakaan kerja maupun berkendara, karena kantuk berlebihan di siang hari, berkurangnya produktivitas karena sulit mempertahankan konsentrasi atau berkurangnya daya ingat, hingga gangguan hubungan interpersonal karena mood yang terganggu.

Apakah saya menderita OSA? Berikut adalah tanda maupun gejala penderita OSA:
• Tidur mendengkur dengan periode henti nafas (apnea).
• Kantuk berlebihan di siang hari.
• Tersedak ataupun rasa kehabisan nafas saat tidur.
• Kualitas tidur yang kurang nyenyak.
• Mulut terasa kering saat terbangun.
• Konsentrasi terganggu.
• Daya ingat menurun.
• Mudah marah.
• Hipertensi.
• Nyeri dada di waktu malam.
• Depresi.
• Kelebihan berat badan (makanya ikut B2W.)
• Libido menurun.
• Sakit kepala di pagi hari.
• Sering ke kamar mandi di malam hari.
• Bentuk leher yang pendek namun besar.

Untuk mendiagnosa OSA, biasanya seorang dokter akan menganjurkan sebuah prosedur pemeriksaan yang menggunakan sebuah alat bernama polysomnography (PSG) yang biasanya dapat ditemukan di klinik-klinik gangguan tidur atau pusat-pusat penelitian tidur, yang baru terdapat beberapa saja di Indonesia. Pemeriksaan ini di luar negeri dikenal dengan sebutan sleep study, sleep test atau sleep laboratory. Alat tersebut terdiri dari sensor-sensor yang merekam segala aktifitas nafas dan gelombang otak saat tidur. Setiap gangguan dan periode-periode henti nafas saat tidur akan terekam secara terperinci. Prosedur ini amatlah mudah, nyaman, tidak menyakitkan, tidak memerlukan obat-obatan, tidak meggunakan teknik-teknik infasif maupun operatif dan tidak mengganggu tidur.

Dari sleep study akan diperoleh gambaran pola tidur seseorang. Sedangkan bagi penderita OSA yang paling penting diperhatikan adalah Apnea-Hypopnea Index (AHI,) yang artinya adalah indeks rata-rata jumlah henti nafas dalam sejam. AHI <5/jam>30 berarti OSA yang berat. Kadar penurunan oksigen dalam darah juga penting untuk diperhatikan.

Ketika OSA sudah dapat dipastikan, beberapa metode perawatan akan ditawarkan tergantung pada hasil pemeriksaan di sleep laboratory. Terlepas dari perawatan yang ditawarkan, seorang penderita OSA diharuskan untuk mengurangi berat badan, berolah raga dan merubah gaya hidup (menghentikan konsumsi alkohol, rokok dan obat-obatan tertentu.) Seperti halnya kita membutuhkan makanan dan gaya hidup yang sehat, kita juga membutuhkan tidur yang sehat. Selama tidur, tubuh kita tetap bekerja dan menjalankan berbagai aktifitas seperti saat kita terbangun. Saat bangun dan tidur adalah siklus alami yang harus diperlakukan dengan perhatian yang sama, itulah sebabnya perhimpunan-perhimpunan penelitian tidur di beberapa negara di dunia memasukkan lambang yin dan yang dalam logo mereka.

Pilihan terbaik untuk perawatan OSA saat ini adalah dengan menggunakan alat bantu nafas bernama CPAP (Continuous Possitive Airway Pressure.) Alat ini berupa sungkup (masker) yang terhubung dengan sebuah mesin yang meniupkan udara bertekanan yang akan menjamin terbukanya jalan nafas di saat tidur. Penggunaan CPAP tidaklah mudah namun cukup nyaman bagi penderita. Setelah menggunakan CPAP selama 6 bulan hingga 1 tahun, biasanya dilakukan PSG ulang untuk mengevaluasi OSA. Banyak penderita OSA yang melaporkan perbaikan dramatis pada kualitas tidur setelah menggunakan CPAP untuk pertama kalinya. Jika seorang penderita dinyatakan sembuh, ia tidak perlu lagi menggunakan CPAP. Tahukah Anda, bahwa CPAP adalah alat yang amat sederhana sehingga prototype pertamanya dibuat dari alat penyedot debu?

Banyak studi yang menunjukkan adanya korelasi antara hipertensi dan OSA. Beberapa bahkan menyebutkan adanya perbaikan tekanan darah di waktu siang maupun malam hari, setelah penggunaan CPAP sebagai terapi OSA. Beberapa penelitian malah lebih jauh menunjukkan bahwa beberapa penderita stroke juga menderita OSA setelah serangan. Dan penderita yang mendapatkan perawatan CPAP menunjukkan stabilitas emosi dan hasil rehabilitasi yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan perawatan.

Pilihan lain yang biasanya dianjurkan juga, berupa pemasangan alat-alat tertentu yang dikenakan di mulut saat akan tidur. Alat yang dibuat oleh dokter gigi ini berfungsi untuk menjaga jalan nafas tetap terbuka saat tidur. Pada penderita OSA yang tidak dapat bertoleransi dengan CPAP, dianjurkan beberapa tindakan operatif yang dikerjakan oleh dokter spesialis THT (sleep surgeon.) Operasi diarahkan untuk mengurangi jaringan lunak pada langit-langit mulut atau bahkan menghilangkan uvula sama sekali. Atau pada penderita OSA yang disebabkan oleh pembengkakkan amandel, dilakukan operasi pengangkatan amandel untuk menjamin lancarnya jalan nafas. Sedangkan tindakan kurang infasif yang saat ini populer di Indonesia adalah pemasangan implant pada langit-langit mulut yang bernama pillar procedure. Sayangnya beberapa ahli sleep surgery menyatakan bahwa prosedur ini hanya efektif pada penderita OSA ringan (AHI<15/jam.)

Amat disayangkan, karena kurangnya pengetahuan kita banyak penderita OSA di sekitar yang dibiarkan tanpa perawatan. Cobalah untuk melihat, apakah Anda atau pasangan Anda mempunyai salah satu resiko atau gejala menderita OSA?

Salam...